Bismillahirrohmaanirrohiim.

Sesungguhnya segala pujian tercurah pada Allah, kita memuji-Nya, kita meminta hanya kepada-Nya, kita memohon ampun hanya kepada-Nya dan kita memohon perlindungan kepada Allah dari kejelekan amalan-amalan kita.

Tulisan ini saya tulis bukan menunjukkan kapabilitas ilmu saya, ilmu saya masih sangat dangkal dan jauh dari karya-karya ulama ahlussunnah semoga Allah merahmati mereka, tulisan ini saya tujukan untuk diri saya sendiri yang sering labil di tengah jalan panjang dalam mengarungi samudera kehidupan fana di dunia ini dan sebagai kontribusi kecil saya untuk mengingatkan teman sejawat saya.

 

1. Latar Belakang

Zaman terus berkembang, tantangan semakin meningkat. Hal ini membuat kebanyakan pemuda meningkatkan softskill dan hardskill mereka untuk menjawab tantangan zaman. Ya, pemuda sekarang begitu luar biasa, aktif di banyak kegiatan mulai dari organisasi, kepanitiaan, dsb. Begitu luar biasa semangat mereka.

Akan tetapi, ada sesuatu yang membuat penulis merasa diri ini bagaikan terhujam pedang. Sewaktu di SMA, saya mempunyai banyak kolega di tempat menuntut ilmu agama. Mereka ini luar biasa. Ada yang ketua ROHIS di SMA dekat dengan sekolah penulis. Ada yang tingkat perubahannya luar biasa sekali. Akan tetapi, sekarang penulis menjumpai mereka dengan sosok yang berbeda. Sangat berbeda. Tepatnya ketika penulis menapaki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ada apa gerangan?..

 

2. Pokok Permasalahan

Para ulama ahlussunnah wal jama’ah memberikan banyak sekali keterangan tentang keluhan yang diutarakan penulis di bagian latar belakang. Qoddarullah, penulis tidak dapat memberikan semua keterangan itu, karena keterbatasan ilmu, waktu, dsb.

Dari apa yang telah dipaparkan dalam bagian latar belakang, para ulama akan menggolongkan pemuda-pemuda tersebut dalam kategori seseorang yang mengalami futur.

 

3. Definisi Futur

Futur adalah rasa malas, enggan, dan lamban dimana sebelumnya ia rajin, bersungguh-sungguh, dan penuh semangat. 

Futur adalah satu penyakit yang sering menyerang sebagian ahli ibadah, para da’i, dan penuntut ilmu. Sehingga seseorang menjadi lemah dan malas, bahkan terkadang berhenti sama sekali dari melakukan aktivitas kebaikan. [1]

 

4. Golongan yang Disebut Futur

Ada beberapa golongan yang dapat dikatakan mereka menderita penyakit futur. Diantara mereka adalah:

1. Golongan yang berhenti sama sekali dari aktivitasnya dengan sebab futur

2. Golongan yang terus dalam kemalasan dan patah semangat, namun tidak sampai berhenti sama sekali dari aktivitasnya

3. Golongan yang kembali pada keadaan semula [2]

 

5. Penyebab Futur

Diantara penyebab munculnya penyakit futur dalam diri adalah:

1. Hilangnya keikhlasan

2. Lemahnya ilmu agama

3. Ketergantungan hati kepada dunia dan melupakan akhirat

4. Fitnah (cobaan) berupa isteri, anak, dan harta

5. Hidup di tengah masyarakat yang rusak

6. Berteman dengan orang-orang yang memiliki keinginan yang lemah dan cita-cita duniawi

7. Melakukan dosa dan maksiat serta memakan barang-barang haram

8. Tidak mempunyai tujuan yang jelas (baik dalam menuntut ilmu maupun berdakwah)

9. Lemahnya iman

10. Menyendiri (tidak mau berjama’ah)

11. Lemahnya pendidikan [3]

 

6. Solusi Penyakit Futur

Setelah mendapat penjelasan akan penyebab-penyebab futur, tentunya kita menginginkan diri agar menjadi lebih baik, berikut beberapa solusi penyakit futur:

1. Memperbaharui keimanan

Yaitu dengan mentauhidkan Allah dan memohon kepada-Nya agar ditambah keimanan, serta memperbanyak ibadah, menjaga shalat wajib yang lima waktu berjama’ah, mengerjakan sholat-sholat sunnah rowatib, melakukan sholat tahajjud dan witir. Begitu juga dengan bersedekah, silaturrahmi, birrul walidain, dan selainnya dari amal-amal ketaatan.

2. Merasa selalu diawasi Allah Ta’ala dan banyak berdzikir kepada-Nya

3. Ikhlas dan taqwa

4. Mensucikan hati (dari kotoran syirik, bid’ah dan maksiat)

5. Menuntut ilmu, tekun menghadiri pelajaran, majelis taklim, muhadharah ilmiyyah, dan daurah-daurah syar’iyyah

6. Mengatur waktu dan mengintrospeksi diri

7. Mencari teman yang baik (shohih)

8. Memperbanyak mengingat kematian dan takut terhadap su-ul khotimah (akhir kehidupan yang jelek)

9. Sabar dan belajar untuk sabar

10. Berdoa dan memohon pertolongan Allah [4]

 

7. Istiqomah

Setelah membaca, mengilmui, dan mengamalkan solusi-solusi penyakit futur, adalah saatnya kita untuk istiqomah. Sebagaimana nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam “Katakanlah: “Aku beriman kepada Allah”, kemudian istiqomahlah” [5]

 

8. Kesimpulan

Melalui paparan singkat diatas, penulis berharap agar penulis dapat mengubah diri penulis menjadi lebih baik. Dan bagi pembaca semoga dapat diberi kemudahan agar kembali kepada kebaikan bagi yang mengalami penyakit futur dan sebagai pengulangan ilmu bagi yang terbebas dari penyakit futur.

 

 

9. Saran

Sebagai tindaklanjut dari tulisan ini, penulis menyarankan pembaca untuk menyimak video tanya jawab tentang “Hukum Dakwah dan Cara Menghilangkan Futur” oleh ustadzunaa Abdurrahman Thoyyib, Lc. hafidhohullah (beliau guru kami semasa di kota Surabaya dan ketua prodi bahasa arab STAI Ali bin Abi Thalib surabaya); berikut linknya:

<script type=”text/javascript” src=”http://yufid.tv/flowplayer/flowplayer-3.2.6.min.js”></script><a  href=”http://konsultasisyariah.com/video/lq/tanya-jawab-hukum-dakwah-dan-cara-menghilangkan-futur-thayyib.flv”style=”display:block;width:490px;height:400px&#8221;  id=”player”></a><script>flowplayer(“player”, “http://yufid.tv/flowplayer/flowplayer-3.2.7.swf&#8221;, {clip:  {autoPlay: false,autoBuffering: true}});</script>

http://yufid.tv/hukum-dakwah-dan-cara-menghilangkan-futur/

Dan perbanyak menuntut ilmu dengan mendatangi majelis-majelis ilmu di dunia nyata jika tidak ada aral melintang.

 

10. Penutup

Penulis berharap agar tulisan ini dapat mengingatkan kita semua akan kehidupan dunia yang fana ini dan agar kita dapat kembali kepada jalan kebenaran, jalan Allah subhaanahu wa ta’ala.

 

 

Footnote:

[1]. Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu, hal. 119, ust. Yazid bin Abdil Qadir Jawas.

[2]. al-Futur Mazhaahiruhu wa Asbaabuhu wal ‘Illaj, disadur dari Adab dan Akhlak Penuntutl Ilmu, hal. 119, ust. Yazid bin Abdil Qadir Jawas.

[3]. al-Futur Mazhaahiruhu wa Asbaabuhu wal ‘Illaj, disadur dari Adab dan Akhlak Penuntutl Ilmu, hal. 120, ust. Yazid bin Abdil Qadir Jawas.

[4]. al-Futur Mazhaahiruhu wa Asbaabuhu wal ‘Illaj, disadur dari Adab dan Akhlak Penuntutl Ilmu, hal. 121, ust. Yazid bin Abdil Qadir Jawas.

[5]. Hadits Riwayat Muslim, disadur dari kutaib arbain annawawi hadits nomor 21

 

 

Advertisements