Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

B. Cara Membersihkan Najis
Ketahuilah, Allah-lah yang telah mengajarkan kita tentang kenajisan materi juga menunjuki cara bersuci darinya. Kita wajib mengikuti firman dan menjalankan perintah-Nya. Apa-apa yang disebutkan di dalamnya (kata) membasuh, hingga tidak terdapat warna, bau, dan rasa, maka seperti itulah cara membersihkannya. Dan apa-apa yang di dalamnya terdapat (kata) mengguyur, me-mercikkan, mengerik, menggosokkan ke tanah, atau sekedar ber-jalan di atas tanah yang suci, maka begitulah cara bersuci darinya. Ketahuilah bahwa air adalah hukum asal dalam membersihkan najis. Karena pembawa syari’at telah menyifatkannya:

خَلَقَ اللهُ الْمَاءَ طَهُوْرًا.

“Allah telah menciptakan air dalam keadaan suci lagi menyuci-kan.” [1]

Maka tidak dibenarkan bersuci dengan selain air, kecuali jika syari’at menetapkannya. Jika tidak ada dalilnya, maka tidak boleh (dengan selain air). Karena hal ini berarti berpaling dari sesuatu yang telah diketahui bahwa ia suci dan menyucikan kepada sesuatu yang tidak diketahui, apakah ia suci dan mampu menyucikan. Hal ini keluar dari konsekuensi metode syari’at.

Jika engkau mengetahui yang demikian ini, maka didatangkan keterangan syari’at mengenai sifat menyucikan benda-benda najis atau benda yang berubah menjadi najis, yaitu:

1. Menyucikan kulit bangkai dengan samak
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, ia mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ.

“Kulit bangkai apa saja jika disamak, maka ia suci.” [2]

2. Menyucikan bejana yang dijilat anjing
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

طُهُوْرُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ.

“(Cara) menyucikan bejana seorang di antara kalian jika dijilat anjing adalah membasuhnya tujuh kali. Yang pertama dengan tanah.” [3]

3. Menyucikan baju yang terkena darah haidh
Dari Asma’ binti Abi Bakar Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Seorang wanita datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Baju salah seorang di antara kami terkena darah haid. Apakah yang harus dia lakukan?’
Beliau bersabda:

تَحُتُّهُ ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ ثُمَّ تَنْضَحُهُ ثُمَّ تُصَلِّي فِيْهِ.

“Keriklah, kucek dengan air, lalu guyurlah. Kemudian shalatlah dengan (baju) itu.” [4]

Jika setelah itu masih ada bekasnya, maka tidak masalah.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Khaulah binti Yasar berkata, “Wahai Rasulullah, saya hanya mempunyai satu baju. Saya memakainya ketika haidh.” Beliau bersabda, “Jika engkau telah suci, cucilah tempat yang terkena darah itu, lalu shalatlah dengannya.” Dia berkata, “Wahai Rasulullah, jika bekasnya tidak hilang?” Beliau bersabda:

يَكْفِيْكِ الْمَاءُ وَلاَ يَضُرُّكِ أَثَرُهُ.

“Air telah mencukupimu dan bekasnya tidak masalah bagimu.” [5]

4. Menyucikan bagian bawah pakaian wanita
Dari Ummu Walad (budak wanita yang melahirkan anak majikannya) milik Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Dia berkata kepada Ummu Salamah, isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Saya adalah wanita yang berpakaian panjang dan saya berjalan di tempat kotor.” Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُطَهِّرُهُ مَا بَعْدَهُ.

“(Ujung pakaian yang terkena kotoran tadi) disucikan oleh (tanah) yang berikutnya.” [6]

5. Menyucikan pakaian yang terkena kencing bayi laki-laki yang masih menyusu
Dari Abu as-Samh, pembantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ، وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلاَمِ.

“Air kencing bayi perempuan dicuci. Sedangkan air kencing bayi laki-laki diperciki.”[7]

6. Menyucikan pakaian yang terkena madzi
Dari Sahl bin Hunaif, dia berkata, “Aku mengalami kesulitan karena madzi. Aku sering mandi karenanya. Kuadukan masalahku ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Cukuplah bagimu wudhu.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan yang mengenai pakaian saya?” Beliau bersabda:

يَكْفِيْكَ أَنْ تَأْخُذَ كَفًّا مِنْ مَاءٍ فَتَنْضَحُ بِهِ ثَوْبَكَ، حَيْثُ تَرَى أَنَّهُ قَدْ أَصَابَ مِنْهُ.

“Cukup ambil segenggam air lalu guyurkan (percikkan) pada pakaianmu yang terkena olehnya.” [8]

7. Menyucikan bagian bawah sandal
Dari Abu Sa’id Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيُقَلِّبْ نَعْلَيْهِ وَلْيَنْظُرْ فِيْهِمَا، فَإِنْ رَأَى خَبَثًا فَلْيَمَسَّهُ بِاْلأَرْضِ ثُمَّ لِيُصَلِّ فِيْهِمَا.

“Jika salah seorang di antara kalian datang ke masjid, hendaklah ia membalik sandal dan melihatnya. Jika melihat kotoran padanya, hendaklah ia gosokkan ke tanah, lalu shalat dengannya.” [9]

8. Menyucikan tanah
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Seorang Arab Badui berdiri lalu kencing di masjid. Orang-orang lantas menghardiknya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada mereka:

دَعُوْهُ، وَهَرِيْقُوْا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلاً مِنْ مَاءٍ -أَوْ ذَنُوْباً مِنْ مَاءٍ- فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِيْنَ وَلَمْ تُبْعَثُوْا مُعَسِّرِيْنَ.

“Biarkan dia. Guyurkan setimba atau seember air pada kencingnya. Sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan, bukan menyusahkan.” [10]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan hal tersebut agar kesucian tanah segera terealisir. Jika dibiarkan hingga kering dan bekas najis hilang, maka tanah itupun suci kembali.

Berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, banyak anjing yang kencing dan berlalu-lalang dalam masjid. Mereka tidak mengguyurkan air sedikit pun di atasnya.”[11]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]
_______
Footnote
[1]. As-Sailul Jarraar (I/42,48) dengan pengubahan. Tentang perkataan beliau, “Allah menciptakan air dalam keadaan suci dan menyucikan.” Al-Hafizh berkata dalam at-Talkhiish (I/14), “Aku tidak mendapati yang seperti ini.” Dan telah disebutkan dalam hadits Abu Sa’id dengan lafazh:

إِنَّ الْمَاءَ طَهُوْرٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْئٌ.

“Sesungguhnya air itu suci dan menyucikan, dan tidak menjadi najis oleh apa pun.”

[2]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2907)], Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (I/230 no. 49), Sunan at-Tirmidzi (III/135 no. 1782), Sunan Ibni Majah (II/ 1193 no. 3609), Sunan an-Nasa-i (VII/173).
[3]. Telah disebutkan takhrijnya.
[4]. Telah disebutkan takhrijnya.
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 351)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/26 no. 361), dan al-Baihaqi (II/408).
[6]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 430)], Muwaththa’ al-Imam Malik (XXVII/44), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/44 no. 379), Sunan at-Tirmidzi (I/95 no. 143), dan Sunan Ibni Majah (I/177 no. 531).
[7]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 293)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/36 no. 372), Sunan an-Nasa-i (I/158).
[8]. Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 409)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/358 no. 207), Sunan at-Tirmidzi (I/76 no. 115), Sunan Ibni Majah (I/169 no. 506).
[9]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 605)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/353 no. 636).
[10]. Muttafaq ‘alaihi: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 171)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/323 no. 220), Sunan an-Nasa-i (I/49, 48), diriwayatkan dengan panjang. Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/39 no. 376), dan Sunan at-Tirmidzi (I/99 no. 147).
[11]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 368)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) secara mu’allaq. (I/278 no. 174), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/42 no. 378).

Advertisements